Tawassul, Ibadah Agung yang Banyak Diselewengkan (1)

Keutamaan tawassul sebagai ibadah yang sangat dianjurkandalam Islam, telah banyak dipahami oleh kaum muslimin, akan tetapimayoritas mereka justru kurang memahami perbedaan antara tawassul yang benar dan tawassulyang menyimpang dari Islam.

Sehingga banyak di antara mereka yangterjerumus melakukan perbuatan-perbuatan yang menyimpang dari aqidahtauhid, dengan mengatasnamakan perbuatan-perbuatan tersebut sebagai tawassul yang dibenarkan. Kenyataan pahit ini semakin diperparah keburukannya dengan keberadaan para tokohpenyokong bid’ah dan syirik, yang mempropagandakan perbuatan-perbuatansesat tersebut dengan iming-iming janji keutamaan dan pahala besar bagi orang-orang yang mengamalkannya.

Bahkan, mereka mengklaim bahwa tawassul syirik dengan memohon/ berdoa kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang mereka anggap shaleh adalah bukti pengagungan dan kecintaan yang benar kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang shaleh tersebut. Dan lebih daripada itu, mereka menuduh orang-orang yang menyerukan untuk kembali kepada tawassul yang benar sebagai orang-orang yang tidak mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang shaleh, serta merendahkan kedudukan mereka.

Inilah sebabnya, mengapa pembahasan tentang tawassulsangat penting untuk dikaji, mengingat keterkaitannya yang sangat eratdengan tauhid yang merupakan landasan utama agama Islam danketidakpahaman mayoritas kaum muslimin tentang hakikat ibadah yangagung ini.

Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu mengungkapkan hal ini dalam kata pengantar buku beliau “Kaifa Nafhamu At-Tawassul (Bagaimana Kita Memahami Tawassul)”, beliau berkata, “Sesungguhnya pembahasan (tentang) tawassulsangat penting (untuk disampaikan), (karena) mayoritas kaum muslimintidak memahami masalah ini dengan benar, disebabkan ketidaktahuanmereka terhadap hakikat tawassul yang diterangkan dalam al-Quran dan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara jelas dan gamblang.

Dalam buku ini, aku jelaskan tentang tawassul yang disyariatkan dan tawassul yang dilarang (dalam Islam) dengan meyertakan argumentasinya dari al-Quran dan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamyang shahih, agar seorang muslim (yang membaca buku ini) memiliki ilmudan pengetahuan yang kokoh dalam apa yang diucapkan dan diserukannya,sehingga tawassul (yang dikerjakan)nya sesuai dengan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan doa (yang diucapkan)nya dikabulkan Allah Subhanahu wa Ta’ala (insya Allah). Dan juga agar seorang muslim tidak terjerumus dalam perbuatan syirik yangbisa merusak amal kebaikannya karena kebodohannya, sebagaimana keadaansebagian dari kaum muslimin saat ini, semoga Allah melimpahkanhidayah-Nya kepada mereka.” (Kitab Kaifa Nafhamu At-Tawassul, hal. 3).

Definisi tawassul dan hakikatnya

Secara bahasa, tawassul berarti menjadikan sarana untuk mencapai sesuatu dan mendekatkan diri kepadanya (lihat kitab An-Nihayah fi Ghariibil Hadiitsi wal Atsar, 5/402 dan Lisaanul  ‘Arab, 11/724).

Syaikh Muhammad bin Shaleh al-’Utsaimin berkata, “Arti tawassul adalah mengambil wasiilah (sarana) yang menyampaikan kepada tujuan. Asal (makna)nya adalah keinginan (usaha) untuk mencapai tujuan yang dikehendaki.” (Kutubu wa Rasa-il Syaikh Muhammad bin Shaleh al-’Utsaimin, 79/1).

Maka arti “ber-tawassul kepada Allah” adalah melakukan suatu amalan (shaleh untuk mendekatkan diri kepada-Nya (lihat kitab Lisaanul  ‘Arab, 11/724).

Imam Ibnu Katsir ketika menafsirkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan/ sarana untuk mendekatkan diri) kepada-Nya, serta berjihadlah di jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. al-Maaidah: 35).

Beliau berkata, “Wasiilah adalah sesuatu yang dijadikan (sebagai sarana) untuk mencapai tujuan.” (Kitab Tafsir Ibnu Katsir, 2/73).

Inilah hakikat makna tawassul,oleh karena itu Imam Qotadah al-Bashri (beliau adalah Qatadah binDi’aamah as-Saduusi al-Bashri (wafat setelah tahun 110 H), imam besardari kalangan tabi’in yang sangat terpercaya dan kuat dalam meriwayatkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam [lihat kitab Taqriibut Tahdziib,hal. 409]) menafsirkan ayat di atas dengan ucapannya, “Artinya:dekatkanlah dirimu kepada Allah dengan mentaati-Nya dan mengamalkanperbuatan yang diridhai-Nya.” (Dinukil oleh Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir, 2/73).

Imam ar-Raagib al-Ashfahani ketika menjelaskan makna ayat di atas, beliau berkata, “Hakikat  tawassul kepada Allah Subhanahu wa Ta’alaadalah memperhatikan (menjaga) jalan (agama)-Nya dengan memahami(mempelajari agama-Nya) dan (mengamalkan) ibadah (kepada-Nya) sertaselalu mengutamakan (hukum-hukum) syariat-Nya yang mulia.” (Kitab Mufraadaatu Ghariibil Quran, hal. 524).

Bahkan, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa makna tawassul inilah yang dikenal dan digunakan oleh para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di zaman mereka (lihat kitab Qaa’idatun Jaliilah fit Tawassul wal Wasiilah, hal. 4).

-Bersambung insya Allah-

Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, M.A.

http://www.segerabangkit.co.cc

mari budayakan toleransi dan perdamaian

Iklan

Tentang Adi Sucipto

Indonesian, Love the country
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Religi dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s